Ahlan wa Sahlan, Selamat datang di blog sederhana kami, semoga bermanfaat.

Jama'ah Penuh Berkah

Tidak ada dakwah tanpa kepemimpinan. Kadar tsiqah antara qiyadah dan jundiyah menjadi penentu bagi sejauh mana kekuatan sistem jamaah, kemantapan langkah-langkahnya, keberhasilan dalam mewujudkan tujuan-tujuannya, dan kemampuannya dalam mengatasi berbagai tantangan dan kesulitan.

Bekerja Untuk Ummat

Dan Katakanlah: Bekerjalah kamu, Maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu itu, dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) yang mengetahui akan yang ghaib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan. (9:105)

Inilah Jalan Kami

Katakanlah: Inilah jalanku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah dengan hujjah yang nyata, Maha suci Allah, dan aku tiada Termasuk orang-orang yang musyrik. (12:108)

Musyawarah Kecamatan Badko TPA Jatinom

Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berjuang di jalan-Nya dalam barisan yang teratur, seakan-akan ia seperti bangunan yang tersusun kokoh.

Kesungguhan Membangun Peradaban

Semua kesungguhan akan menjumpai hasilnya. Ini bukan kata mutiara, namun itulah kenyataannya. Setiap orang akan mendapatkan apa yang diusahakan dengan sepenuh kesungguhan.

3 November 2011

Malaysia Pantau Pembangunan Venue SEA Games


VIVAnews - SEA Games XXVI yang akan digelar di Jakarta dan Palembang pada 11-22 November 2011 mendapat banyak tantangan. Selain karena tersendatnya pembangunan venue pertandingan, masalah korupsi juga menghantui pesta olahraga ini.

Malaysia, sebagai satu dari 11 peserta SEA Game, terus memantau perkembangan ini. "Saya selalu mengikuti perkembangannya, terutama penyelesaian venue, fasilitas, dan persiapan lewat (pemberitaan) media dan teman-temannya saya di Indonesia," kata Menteri Pemuda dan Olahraga Datuk Seri Ahmad Shabery Cheek dilansir dari Bernama, Rabu malam, 2 November 2011.

Hingga saat ini, selain masalah venue, fasilitas pertandingan juga belum terpenuhi. Komite Olimpiade Indonesia (KOI) memastikan hingga kini ada tiga cabang yang belum menerima peralatan, yakni balap sepeda, dayung, dan panahan.

Sedangkan di cabang gulat, sesudah tertunda tiga pekan akhirnya ujicoba dilaksanakan di Gedung Graha Serba Guna Pemprov Sumatera Selatan, Jakabaring, Palembang. Namun, ujicoba yang melibatkan 17 pegulat ini terpaksa menggunakan matras bekas Pekan Olahraga Nasional (PON) 2004.

Di cabang dayung, uji coba malah baru akan digelar dua hari sebelum upacara pembukaan SEA Games 2011 di Danau Cipule Desa Mulyasari Kecamatan Ciampel, Karawang.

3 Pesawat Siap Halau Hujan Saat SEA Games


VIVAnews -- Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) menyiapkan tiga buah pesawat dan mobile radar untuk memantau gerakan awan di Palembang, khususnya di kompleks Stasion Jakabaring. "Karena sudah menganalisis berbagai perubahan cuaca, potensi pengendalian hujan selama pertandingan olahraga berlangsung bisa dilakukan," jelas Kepala Unit Pelaksana Teknis Hujan Buatan BPPT, Samsul Bahri di Gedung BPPT, Jakarta, Rabu 2 November 2011. Meski gangguan nonteknis akibat musim hujan mengancam, namun panitia pelaksanaan SEA Games sudah mengantisipasinya dengan membuat rekayasa cuaca. "Kami sudah persiapkan semua peralatan sehingga hujan di area Jakabaring bisa dihalau," jelasnya. Pencegahan hujan dilakukan sejak 24 Oktober sampai 25 November di sekitar langit kompleks Stadion Jakabaring. Caranya, dengan menembakkan zat garam ke awan yang berpotensi menjadi hujan dan menggiringnya agar jatuh di luar lokasi. "Kami melakukan ini atas permintaan panitia pelaksana dan Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan," tuturnya. Pemberian pelayanan teknologi mengontrol cuaca ini merupakan bentuk pengabdian teknologi kepada bangsa dan negara. Samsul mengaku tidak belum ada permintaan khusus dari Pemerintah DKI Jakarta untuk melakukan rekayasa teknologi untuk menghalau hujan seperti di Palembang. "Untuk di Palembang kami sudah diajak berkoordinasi sejak lama dan dipersiapkan secara matang. Tapi, tidak untuk di Jakarta," beber Samsul. Samsul mengingatkan, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta agar meniru langkah Pemprov Sumatera Selatan dengan mengadakan rekayasa teknologi pengendali hujan. Pasalnya, berdasarkan analisis cuaca yang dilakukan BMKG, selama dua pekan ke depan terjadi peningkatan curah hujan. "Lebih baik DKI meniru langkah Palembang sebab ini mempertaruhkan nama baik bangsa. Jangan sampai terjadi hujan yang mengganggu jadwal olahraga," saran Samsul.

Sejarah Islam di Rantau Nusantara Harus Diluruskan




Hidayatullah.com--Buku-buku sejarah tentang Islam dan Melayu yang dominan saat ini harus dibenahi. Seperti kebanyakan pandangan sejarawan yang mengatakan bahwa Islam tidak meresap ke dalam jati diri masyarakat Melayu Indonesia.

Pernyataan ini disampaikan Dr Adian Husaini dalam acara bedah buku Historical Fact and Fiction di Gedung Pasca Sarjana IAIN Sunan Ampel Surabaya, hari Rabu (2/11/2011) kemarin.

Menurut Ketua Program Studi Pendidikan Islam—Program Pasca Sarjana Universitas Ibn Khaldun Bogor ini, selama ini, suara miring islamisasi di Nusantara banyak dilakukan oleh kalangan orientalis.

“Dikatakan, Nusantara mundur dikarenakan dihancurkan oleh Islam, setelah mengalami kejayaan pada masa kerajaan Hindu-Budha”, jelas Adian A pada acara bedah buku karya terbaru Prof.Dr.Syed M.Naquib al-Attas ini.

Pandangan ini, tidak lain merupakan framework orientalis dalam menganalisis sejarah Islam di Nusantara.

Menurut Dr.Hamid Fahmy Zarkasyi,M.Phil yang juga pemateri pada bedah buku tersebut mengatakan, kesalahan sejarawan orientalis adalah, mereka hanya melakukan penelitian empiris dan asumsi dasar yang digunakan adalah asumsi yang tidak berdasar agama sama sekali.

Suara-suara miring tentang Islamisasi Nusantara telah ada sejak era penjajahan Belanda. Salah satu keberhasilan usaha penjajah dan orientalis adalah meskipun Indonesia mayoritas Muslim, akan tetapi simbol-simbol Negara dan simbol sejarah jauh dari warna Islam.

Adian mencontohkan, keberadaan masjid-masjid bersejarah dan pondok pesantren tidak dianggap penting ketimbang candi. Anak-anak sekolah lebih mengenal dan membanggakan Gajah Mada dari pada Raden Patah dan Wali Songo. Sehingga timbul pemikiran bahwa peradaban candi yang hindu merupakan jati diri bangsa Melayu. Sedangkan wajah Islam sebenarnya justru ditutupi.

Buku Historical Fact and Fiction karya al-Attas ini berusaha menepis fakta-fakta fiktif tersebut.


Menurut pakar filsafat sejarah ini, pengislaman Nusantara telah disiapkan bertahun-tahun, dilakukan secara sistematis, terencana, konsisten dan dilakukan para ulama’ yang hebat. Jadi, kata Adian Husaini, islamisasi Nusantara tersebut bukan asal-asalan.

Mereka memang sengaja datang ke rantau Nusantara untuk menyebarkan Islam. Karenanya, buku ini juga menepis anggapan bahwa pengisalaman Nusantara bukan dilakukan oleh pedagang, sufi atau kaum Syi’ah. Tapi mereka adalah d’ai yang sengaja diutus resmi untuk menyebarkan Islam, ujar Adian.

Dalam buku tersebut juga diungkapkan sebuah hikayat yang menyebut bahwa Islam masuk ke Nusantara pada abad ke-7. Dan kuat dugaan penyebaran itu atas perintah sahabat generasi awal.

Salah satu hal penting dalam buku ini menurut Dr. Hamid adalah framework studi sejarah Islam.

“Yang ditawarkan al-Attas dalam buku tersebut adalah seorang sejarawan harus tahu dengan teliti agama yang diteliti, tidak seperti orientalis yang tahu Islam secara parsial. Selain itu sejarawan harus paham simbol-simbol agama, bahasa yang digunakan da’i mencerminkan worldview,” jelas Hamid.

Berkaitan dengan bahasa, al-Attas dengan tegas mengatakan bahwa bahasa Melayu menjadi bahasa pengantar dalam dakwah. Islamisasi itu melalui bahasa Melayu. Kosa kata kunci dalam Islam dimasukkan ke dalam bahasa Melayu.

“Makanya, banyak sekali istilah-istilah bahasa melayu dan Indonesia yang diserap dari bahasa Arab,” tambah Hamid.

Menurutnya ini bukan tanpa sengaja. Akan tetapi memang pandangan hidup bangsa Nusantara itu telah menjadi Islam melalui bahasa melayu.

“Inilah yang disebut islamisasi worldview,” pungkasnya. Sehingga peradaban Nusanatara pada era penyebaran Islam adalah peradaban Islam yang bercorak melayu.

Berdasarkan hal tersebut, menurut Adian, al-Attas dalam buku tersebut sesungguhnya mengaskan bahwa bahasa Melayu dan Islam itu menjadi faktor pemersatu Nusantara, bukan Gajah Mada yang selama ini dipahami dalam buku-buku sejarah.

31 Oktober 2011

Setelah Membaca Alquran Dua Kali dan Lakukan Pencarian, Glyn Memutuskan Bersyahadat


REPUBLIKA.CO.ID, Glyn Maclean menjadi muslim dengan jalan yang berbeda dari mualaf lain. Ketika itu tahun 1970, sedang era musim perang dingin. Kehancuran massal seperti tinggal menunggu waktu akibat ancaman bom nuklir. Isu komunisme juga menjadi bahasan. Hal ini hampir melanda di seluruh dunia termasuk Selandia Baru.

Di tahun 1990an, saat isu komunisme sedikit mereda, ia mendapatkan informasi mengenai Islam sebagai penyeimbang. “Di sekolah, dulu kami mempelajari revolusi Cina. Kita bisa mengakses Marx, Linen, tapi tak ada informasi tentang Islam yang bisa diakses,” ujarnya. Ia hanya mendapatkan Islam hanya sebagai sebuah informasi tapi tak bisa mempelajarinya. Cukup sulit untuk mendapatkan informasi mengenai Islam saat itu. Ia mengambul keputusan untuk mempelajari Islam langsung dari sumbernya. Ia kemudian mulai membaca Alquran. Sayang, ia belum berhasil mendapatkan terjemahannya. Tak ada satu pun perpusatakaaan atau toko buku yang bisa menyediakan terjemahan Alquran untuknya. Ia sempat mengingat di salah satu tempat di Jalan Daniel, New Town terdapat Pusat Studi Islam Wellington. Ia yakin orang disana pasti bisa meminjamkannya. Tapi ia merasa ragu untuk mendatangi tempat itu. “Aku tak tahu bagaimana harus bersikap. Aku tahu bagaiamana bersikap ketika berada di gereja atau pemakaman. Tapi aku sama sekali tak tahu bagaimana bersikap dengan komunitas muslim,” katanya. Ia mengurungkan niat itu, lalu memesan terjemahan Alquran melalui amazon.net. Ia benar-benar terkejut ketika membaca Alquran. Baginya, seperti membaca semua cerita yang dulu pernah diceritakan ketika masih anak-anak. Ada Adam, Ibrahim, Hud, Isa dan Maria. “Semua hal yang menjadi nilai-nilai pendidikan agama ketika aku masih kecil,” ujarnya. Alquran seperti menjawab semua kekhawatirannya tentang semua yang pernah saya ia pelajari di gereja dan sekolah Minggu. Ia menemukan fakta bahwa Yesus (Isa ) adalah manusia biasa. Namun ia seorang nabi yang luar biasa, dan sama sekali berbeda dengan konsep trinitas yang selama ini ia pahami. Campur aduk perasaan Glyn ketika membaca Alquran. Ia merasa terkejut sekaligus malu. Ia malu karena ketidaktahuannya. "Kenyataan bahwa kami ternyata berbicara pada Tuhan yang sama. Saya terus membaca sampai pada akhirnya saya menyadari bahwa apa yang saya baca adalah kebenaran," ungkapnya. Ia tak bisa menjelaskan dengan kata-kata apa yang ia rasakan. “Saya merasakan kebenaran dalam arti yang paling dalam,” begitu komentarnya. Ia mengulang membaca Alquran. Setelah membaca yang kedua kalinya, ia memutuskan untuk melakukan cukup banyak penelitian melalui internet bagaimana menjadi seorang muslim. Apa yang harus dilakukan dan bagaimana perilaku umum umat muslim. Ia mulai mencari tahu bagaimana Islam. Sempat ia menamukan artikel dalam bahasa Arab yang sama sekali tak ie ketahui artinya. Tapi apa pun itu ia berkeyakinan tak perlu terburu-buru untuk memutuskan masuk Islam. “Masuk Islam harus benar-benar sesuai dengan keyakinan dan kemantapan hati,” ujarnya. Akhirnya, setelah mendapatkan banyak informasi dan juga kemantapan tersebut, Glyn memutuskan masuk Islam pada Oktober 2000.

Taujih Ruhiyah Aktivis Dakwah dan Harakah:Keikhlasan Aktivis Dakwah

Bismillahirrohmaanirrohim

Ihwah Fillah,

Ikhlas merupakan kekuatan iman, pengendali jiwa yang mendorong seseorang untuk menyingkirkan kepentingan pribadi dan menjauhkan keinginan-keinginan materi sehingga tujuan amaliyahnya semata-mata hanya mengharapkan ridha Allah swt. Segala macam amalan yang telah engkau lakukan akan sia-sia manakala tanpa disertai rasa ikhlas. Bagi seorang aktivis dakwah, rasa ikhlas akan melindungi dirinya dari godaan-godaan dan tipu daya syaitan dan perasaan terbebani dalam menjalankan tugas dakwah yang mulia ini.

Allah swt. berfirman:

Dan tidaklah mereka diperintahkan melainkan supaya beribadah kepada Allah (dengan) mengikhlaskan agama karena-Nya serta jauh dari kesesatan… (QS. Al Bayyinah : 5)

… maka barangsiapa yakin sepenuhnya akan perjumpaan dengan Rabbnya, hendaklah ia beramal dengan amal shalih dan janganlah ia mempersekutukan dengan siapapun dalam beribadah kepada Rabbnya. (QS. Al Kahfi : 110)

Dan mereka memberi makanan yang disukainya kepada orang miskin, anak yatim, dan orang yang ditawan. Sesungguhnya kami memberi makan kepadamu hanyalah mengharapkan keridhaan Allah, kami tidak menghendaki balasan dari kamu dan tidak pula (ucapan) terima kasih (QS. Al Insaan : 8-9)

Dari Amirul Mukminin Abu Hafs Umar bin Khatab berkata, “Aku mendengar Rasulullah saw bersabda,Sesungguhnya segala perbuatan bergantung pada niatnya, dan bahwasanya bagi tiap-tiap orang apa yang ia niatkan. Barang siapa yang berhijrah menuju (ridha) Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya untuk Allah dan Rasul-Nya. Barangsiapa yang hijrah karena dunia (harta atau kemegahan dunia), atau karena wanita yang akan dinikahinya, maka hijrahnya itu ke arah yang ditujunya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Sesungguhnya Allah Azza Wa Jala tidak menerima amal melainkan amal yang ikhlas dan tertuju pada satu arah (yaitu keridhaan-Nya). (HR. Imam Daud dan Imam Nasa’i).

Muadz bin Jabbal meriwayatkan ketika beliau diutus oleh Rasulullah saw. ke Yaman, “Ya Rasulullah, berilah pesan kepadaku”. Lalu Rasulullah saw. bersabda kepadanya,

Ikhlaskanlah agamamu, niscaya amal yang sedikit pun mencukupimu.

Indikasi Ikhlas

Seperti kita ketahui bahwa syarat diterimanya ibadah ada dua: amalan yang dikerjakan sesuai tuntunan syariat dan amalan tersebut dikerjakan karena mengharap ridha Allah (ikhlas). Kedua syarat tersebut wajib terpenuhi. Suatu amalan yang ditunaikan tanpa sesuai syariat, maka amalan tersebut akan tertolak di mata Allah walaupun berniatkan mengharap ridho dari Allah swt. Amalan yang dilaksanakan tanpa niat kepada Allah, akan mutlak tertolak di hadapan Allah walaupun syariat telah terpenuhi.

Seorang aktivis dakwah hendaklah selalu bermuhasabah terhadap amalan-amalan yang telah dilaksanakan. Apakah dakwah yang diemban dalam rangka menjemput ridha Allah swt. atau untuk mendapatkan popularitas semata di mata masyarakat atau ucapan terima kasih?

Seorang aktivis dakwah hendaklah selalu berdoa kepada Allah agar ditetapkan hatinya untuk beramal ikhlas dan berjalan sesuai dengan syariat-Nya. Jika amalan yang dikerjakan berbenturan dengan syariat, maka hendaklah ia bertaubat kepada Allah Azza Wa Jalla. Jika tidak, maka adzab Allah lah yang akan dia dapat serta amalan-amalan yang dikerjakan akan lenyap sia-sia.

Menggapai Keikhlasan

Ketahuilah wahai aktivis dakwah, ada empat hal yang perlu diperhatikan dalam menggapai keikhalasan:

  1. hendaklah amalan-amalan yang dikerjakan semata-mata hanya mengharapkan ridha Allah swt.
  2. setiap aktivitas, amal perjuangan, dan kehidupan sehari-hari harus sesuai dengan tuntunan syariat Allah swt.
  3. senantiasa bermuhasabah diri akan niat dalam beramal.
  4. senantiasa waspada terhadap tipu daya syetan yang selalu ingin menghancurkan keimanan kita melewati sifat riya.

Kepribadian tersebut harus ada pada diri seorang aktivis dakwah. Itulah yang harus engkau tampilkan di tengah-tengah masyarakat dengan penuh izzah. Tugas seorang aktivis dakwah adalah melaksanakan tugas dakwah dengan istiqomah. Kita harus tetap yakin bahwa kelak Allah swt. akan menurunkan rahmat-Nya kepada masyarakat berupa terpimpinnya mereka dalam syariat Allah, menerima dakwah ini, dan menjalankan perintah Allah tanpa rasa paksaan dari dalam diri mereka. Sungguh, dakwah yang dilaksanakan dengan ikhlas dan tawadhu akan diterima dalam hati masyarakat.

Wahai para aktivis dakwah, ingatlah kisah di bawah ini

Dahulu hiduplah seorang ahli ibadah. Ia telah puluhan tahun beribadah kepada Allah dengan rasa ikhlas dan tawadhu. Suatu ketika, datanglah seorang pemuda yang memberitahukan kepadanya bahwa masyarakat di kampungnya telah mengkeramatkan sebuah pohon bahkan sampai menyembahnya. Mendengar hal tersebut, sang ahli ibadah merasa berkewajiban untuk memberantas kemungkaran yang mereka lakukan. Segeralah sang ahli ibadah mengambil kapak untuk menghancurkan pohon tersebut.

Di tengah perjalanan, sang ahli ibadah dihadang oleh syetan yang telah menjelma menjadi seorang kakek tua. Sang kakek berkata,

“Hendak kemana, wahai orang yang dirahmati Allah?”

“Aku hendak menebang pohon yang disembah banyak orang tersebut.” jawab sang ahli ibadah dengan polosnya.

“Apa urusanmu dengan pohon itu? Sesungguhnya Anda telah meninggalkan kesibukan ibadah kepada Allah dan bukankah urusan ini bukan tugas Anda?” ungkap sang kakek. Merasa dihalangi, sang ahli ibadahpun menjawab,

“Tidak! Tugas ini adalah ibadahku juga.”

Akhirnya terjadilah perkelahian antara sang kakek dan ahli ibadah. Kemengan diraih oleh ahli ibadah. Tubuh kakek terkapar di tanah dan dibelenggu oleh ahli ibadah. Kemudian, si kakek tersebut berkata,

“Tolong lepaskan aku. Aku ingin menyampaikan sesuatu.” Maka dilepaslah sang kakek dan berkatalah ia,

“Mengapa Anda melakukan ini? Sesungguhnya Allah telah membebaskan tugas ini dan tidak mewajibkannya untuk Anda, toh Anda sendiri tidak menyembah pohon tersebut. Lalu apa urusan Anda dengan orang lain. Bukankah Allah telah mengutus para nabi di seluruh negeri. Jika Dia berkehendak niscaya akan diangkatnya mereka untuk menghancurkan pohon tersebut.” Sang ahli ibadah tetap tegar seraya berkata,

“Bagaimanapun aku tetap berkewajiban untuk menebangnya!” Akhirnya terjadi perkelahian kedua di antar mereka dan pada akhirnya dimenangkan oleh sang ahli ibadah. Si kakek menyadari bahwa kemenangan ahli ibadah semata-mata karena sang ahli ibadah memiliki senjata yang ampuh, yaitu keikhalasan. Akhirnya ia berpikir untuk membengkokkan niatan dari sang ahli ibadah.

“Sebenarnya aku merasa kasihan terhadap dirimu yang direndahkan oleh rekan-rekanmu karena kemiskinanmu. Bukankah dengan harta, engkau akan mendapatkan kedudukan di hadapan masyarakat? Dengan harta pula, engkau dapat menyantuni fakir miskin dan orang-orang yang membutuhkan pertolongan.” kata kakek.

“Benar juga apa yang engkau katakan.” jawab sang ahli ibadah yang telah goyah hatinya. Akhirnya ia pulang dengan hasil negoisasi dengan kakek bahwa sang ahli ibadah akan mendapatkan uang 2 dirham setiap hari dari si kakek sebagai imbalan mengurungkan niatnya untuk menebang pohon tersebut.

Setan tetaplah setan. Hari-hari yang lalu, ia tetap memberi uang namun sekarang tak sepeser pun sang ahli ibadah mendapatkan uang. Dengan perasaan jengkel dan marah, sang ahli ibadah pergi ke pohon tersebut untuk menumbangkan kembali pohon syirik tersebut.

Di tengah jalan iblis kembali menyerupai kakek-kakek dan kembali menghadang. Perkelahian terjadi kembali namun sang ahli ibadah kalah dan kalah lagi dengan mudahnya. Sang ahli ibadah pun berkata,

“Mengapa aku kalah sekarang, padahal dahulu begitu mudahnya aku mengalahkanmu?”

“Ketahuilah bahwa tempo hari engkau marah dan berniat menghancurkan pohon keramat semata-mata karena mengharapkan ridha Allah, maka dengan mudah kau mengalahkanku. Namun, pada hari ini engkau marah karena harta, maka dengan mudah aku mengalahkanmu.”

Tidak ada alasan pada diri kita untuk tidak menanamkan rasa ikhlas. Hindarilah perbuatan-perbuatan yang dapat menjerumuskan kita ke jurang kenistaan. Janganlah mudah terpesona dan tersanjung dengan pujian dan sanjungan karena terkadang hal tersebut membawa kita kepada sifat riya dan angkuh.

Begitulah seorang aktivis yang senantiasa menghendaki dakwah Islamiyah tersebuar luas dan menghendaki Islam tampil mulia dan cemerlang, sehingga umat Islam memiliki harga diri dan menjadi umat yang diperhitungkan, merasakan kebahagiaan dan mendapatkan rahmat serta pertolongan Allah yang Maha Rahman.

wallahu’alam bishshowwab

FIFA Tidak Mau Intervensi Kisruh PSSI


FIFA / Daylife
FIFA / Daylife
JAKARTA – FIFA akhirnya mengeluarkan pernyataan sikap terkait kisruh di tubuh PSSI. Organisasi sepakbola tertinggi di dunia itu menilai kisruh yang saat ini melanda PSSI adalah persoalan internal, dan mereka tidak akan melakukan intervensi.

Sikap FIFA itu tertuang dalam surat yang disampaikan kepada Sekjen PSSI Tri Goestoro kemarin untuk menjawab surat aduan yang dilayangkan salah satu anggota Komite Eksekutif La Nyalla Matalitti kepada FIFA.

La Nyala sebelumnya mengadukan beberapa persoalan salah satunya adalah mengenai format kompetisi dengan 24 klub yang menurutnya menyalahi statuta PSSI.

Berikut isi surat FIFA yang ditandatangani Jerome Valcke (Secretary General FIFA) dan diketahui Alex Soosay (Secretary General AFC):

Kepada Tri Goestoro (Sekjen PSSI)

Merujuk pada laporan tanggal 14 Oktober 2011 di mana anggota Komite Ekskutif PSSI keberatan terhadap keputusan yang diambil Komite Eksekutif PSSI pada 21 September 2011. FIFA dan AFC berpendapat bahwa masalah ini adalah masalah internal dan sebagai konsekuensinya, kami tidak akan mengintervensi.

Kami menginformasikan kepada Anda bahwa masalah ini bisa diselesaikan sesuai dengan pasal 69 Statuta FIFA atau melalui Kongres PSSI, yang tentu saja merupakan badan tertinggi asosiasi.

Untuk diperhatikan, ini merupakan informasi secara umum dan tidak memiliki tendensi apapun berkaitan dengan keputusan-keputusan yang diambil di masa yang akan datang. FIFA dan AFC berharap semua keputusan yang diambil Komite Ekskutif PSSI tetap sesuai dengan Statuta PSSI.

Terakhir, kami berharap untuk terus mendapat informasi mengenai perkembangan masalah ini.

Surat dari FIFA ini sendiri merupakan respons organisasi sepabola dunia tersebut terhadap surat aduan yang dilayangkan Anggota Komite Eksekutif La Nyalla Matalitti. Pada 14 Oktober lalu, La Nyalla melayangkan surat berisi aduan ke FIFA.

Dalam surat tersebut, La Nyalla mengadukan sejumlah persoalan yang saat ini terjadi di tubuh PSSI. Perihal masalah yang diadukan La Nyalla terkait ditetapkannya 24 klub sebagai peserta kompetisi Indonesian Premier League yang dianggap menyalahi statuta dan Kongres Bali. La Nyalla juga menyoroti PT Liga Prima Sportindo yang dianggap tak sah menjadi operator kompetisi.

(fit)